Krisis DAS di Balik Banjir dan Kekeringan

Berita16 March 2026

Banjir dan kekeringan merupakan dua persoalan yang sangat akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Hampir setiap tahun, kedua bencana ini terjadi silih berganti di berbagai daerah. Dampaknya tidak ringan, mulai dari kerusakan rumah dan infrastruktur, kerugian ekonomi, hingga korban jiwa. Ironisnya, ketika musim hujan air melimpah dan menyebabkan banjir, tetapi saat musim kemarau masyarakat justru mengalami kekurangan air bersih.

Data Buku Bencana Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk yang terdampak dan harus mengungsi akibat bencana alam disebabkan oleh banjir dan kekeringan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya air di Indonesia masih menghadapi tantangan besar dan membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.

Salah satu kunci utama dalam memahami persoalan ini adalah kondisi daerah aliran sungai (DAS). DAS merupakan wilayah daratan yang berfungsi sebagai sistem alami pengatur siklus air, mulai dari menampung, menyimpan, hingga mengalirkan air hujan dari hulu ke hilir. Selain itu, DAS juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan tata air, mengurangi risiko banjir, dan memastikan ketersediaan air tanah saat musim kemarau.

Pada kondisi yang sehat, DAS mampu memperlambat aliran air hujan. Sebagian air mengalir ke sungai secara bertahap, sementara sebagian lainnya meresap ke dalam tanah melalui proses infiltrasi. Air yang meresap ini menjadi cadangan air tanah yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, terutama pada musim kemarau. Proses ini juga membantu menjaga stabilitas debit sungai dan kualitas lingkungan secara keseluruhan.

Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar dalam pengelolaan daerah aliran sungai. Tercatat sekitar 17.000 DAS tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dengan jumlah tersebut, Indonesia memiliki kemampuan alami yang besar untuk menampung air hujan dan mengurangi risiko banjir maupun kekeringan. Namun, kenyataannya banyak DAS yang mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi secara optimal.

Kerusakan DAS di Indonesia diperkirakan telah mencapai sekitar 14 juta hektar. Kerusakan ini disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia, seperti penebangan hutan, alih fungsi lahan menjadi permukiman dan infrastruktur, kegiatan perkebunan, pertambangan, serta pencemaran lingkungan. Aktivitas tersebut secara bertahap mengurangi kemampuan alami DAS dalam menyerap, menyimpan, dan mengatur aliran air.

Permukaan lahan yang didominasi material kedap air seperti beton dan aspal membuat air hujan sulit meresap ke dalam tanah. Akibatnya, sebagian besar air berubah menjadi aliran permukaan atau run off yang langsung mengalir ke sungai. Kondisi ini menyebabkan peningkatan debit sungai secara cepat, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Di sisi lain, pembukaan lahan tanpa pengelolaan yang baik dapat memicu erosi tanah. Tanah yang tererosi terbawa aliran air dan mengendap di sungai sebagai sedimen. Proses sedimentasi ini mempersempit dan mendangkalkan sungai, sehingga kapasitas sungai untuk menampung air menjadi berkurang. Ketika volume air yang masuk ke sungai meningkat sementara kapasitasnya menurun, luapan air menjadi tidak terhindarkan. Kondisi ini menyebabkan banjir, bencana hidrometeorologi yang paling sering terjadi di Indonesia.

Selain meningkatkan risiko banjir, kerusakan DAS juga berdampak pada menurunnya infiltrasi air ke dalam tanah. Akibatnya, cadangan air tanah tidak terisi kembali secara optimal. Pada musim kemarau, kondisi ini menyebabkan ketersediaan air bersih menjadi terbatas dan meningkatkan risiko kekeringan, terutama di wilayah yang bergantung pada air tanah sebagai sumber utama.

Berbagai kajian menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat penggunaan air tanah yang tinggi di Asia Tenggara, khususnya untuk kebutuhan rumah tangga. Jika pemanfaatan air tanah tidak diimbangi dengan upaya konservasi dan pengisian ulang, maka risiko krisis air bersih akan semakin meningkat.

Tantangan ini diperkirakan akan semakin berat akibat perubahan iklim. Peningkatan suhu dan perubahan pola curah hujan menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang, sementara hujan turun dengan intensitas yang lebih tinggi dalam waktu singkat. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir sekaligus kekeringan dalam periode yang berbeda.

Dalam situasi tersebut, pemulihan daerah aliran sungai menjadi langkah strategis yang tidak dapat ditunda. Pemulihan DAS bertujuan untuk mengurangi run off, meningkatkan infiltrasi, serta memperkuat cadangan air tanah. Dengan demikian, risiko banjir dapat dikurangi dan ketersediaan air bersih dapat terjaga secara berkelanjutan.

Upaya pemulihan DAS perlu dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Langkah-langkah seperti menjaga kawasan resapan, membatasi perkerasan lahan, melindungi bantaran sungai, serta mendorong pemanfaatan air hujan melalui sumur resapan dan reservoir alami dapat memberikan dampak signifikan.

Dengan pengelolaan DAS yang berkelanjutan, fungsi alami daerah aliran sungai dapat dipulihkan. Hal ini tidak hanya membantu mengurangi risiko banjir dan kekeringan, tetapi juga memastikan keberlanjutan sumber daya air dan mendukung ketahanan air nasional di masa depan.

 

Water Hand
Jadi Bagian dari Perubahan

Karena setiap orang berhak atas akses air bersih yang aman, mudah dan berkelanjutan hari ini, esok dan selamanya

rucika
Rucika Institute berkontribusi secara aktif dalam pengembangan sumber daya air, dengan memberikan kesadaran nyata bagi semua.
IGFBTT
Beranda
Artikel
Modul
Acara
Berita
Tour